1. Pengertian Transistor
Transistor merupakan
komponen penting yang dipakai dalam barang-barang elektronika seperti TV,
radio, komputer, dll. Transistor adalah alat semikonduktor yang berfungsi
sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung (switching),
stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya. Transistor
dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus inputnya (BJT)
atau tegangan inputnya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang sangat
akurat dari sirkuit sumber listriknya. Pada dasarnya transistor adalah dua
dioda yang dipertemukan, sehingga cara mengujinya juga hampir sama dengan
menguji dioda.
Secara umum,
transistor memiliki 3 terminal. Tegangan atau arus yang dipasang di satu
terminalnya mengatur arus yang lebih besar yang melalui 2 terminal lainnya.
Transistor adalah komponen yang sangat penting dalam dunia elektronik modern.
Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam amplifier (penguat).
Rangkaian analog melingkupi pengeras suara, sumber listrik stabil, dan penguat
sinyal radio. Dalam rangkaian-rangkaian digital, transistor digunakan sebagai
saklar berkecepatan tinggi. Beberapa transistor juga dapat dirangkai sedemikian
rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate, memori, dan komponen-komponen
lainnya.
2. Prinsip Kerja Transistor
Dari banyak tipe-tipe transistor modern, pada awalnya ada dua tipe dasar transistor, bipolar junction transistor (BJT atau transistor bipolar) dan field-effect transistor (FET), yang masing-masing bekerja secara berbeda. Transistor bipolar dinamakan demikian karena kanal konduksi utamanya menggunakan dua polaritas pembawa muatan: elektron dan lubang, untuk membawa arus listrik. Dalam BJT, arus listrik utama harus melewati satu daerah/lapisan pembatas dinamakan depletion zone, dan ketebalan lapisan ini dapat diatur dengan kecepatan tinggi dengan tujuan untuk mengatur aliran arus utama tersebut. FET (juga dinamakan transistor unipolar) hanya menggunakan satu jenis pembawa muatan (elektron atau hole, tergantung dari tipe FET). Dalam FET, arus listrik utama mengalir dalam satu kanal konduksi sempit dengan depletion zone di kedua sisinya (dibandingkan dengan transistor bipolar dimana daerah Basis memotong arah arus listrik utama). Dan ketebalan dari daerah perbatasan ini dapat dirubah dengan perubahan tegangan yang diberikan, untuk mengubah ketebalan kanal konduksi tersebut. Lihat artikel untuk masing-masing tipe untuk penjelasan yang lebih lanjut.
3. Macam-macam Transistor
a)
Materi semikonduktor: Germanium, Silikon,
Gallium Arsenide
b)
Kemasan fisik: Through Hole Metal, Through Hole
Plastic, Surface Mount, IC, dan lain-lain
c)
Tipe: UJT, BJT, JFET, IGFET (MOSFET), IGBT, HBT,
MISFET, VMOSFET, MESFET, HEMT, SCR serta pengembangan dari transistor yaitu IC
(Integrated Circuit) dan lain-lain.
d)
Polaritas: NPN atau N-channel, PNP atau
P-channel
e)
Maximum kapasitas daya: Low Power, Medium Power,
High Power
f)
Maximum frekwensi kerja: Low, Medium, atau High
Frequency, RF transistor, Microwave, dan lain-lain
g)
Aplikasi: Amplifier, Saklar, General Purpose,
Audio, Tegangan Tinggi, dan lain-lain.
4.
Fungsi
Transistor
a.
Sebagai penguat arus, tegangan dan daya (AC dan
DC)
b.
Sebagai penyearah
c.
Sebagai mixer
d.
Sebagai osilator
e.
Sebagai switch
5.
Dasar-dasar
rangkaian Transistor
Untuk membias
Transistor supaya dapat digunakan caranya ada tiga macam dasar pembiasan,
disamping dengan cara membias dasar Transistor ini untuk mengoperasikan
Transistor diperlukan data-data Transistor mengenai daerah operasinya, tegangan
maksimum yang tidak boleh dilampaui, arus maksimum yang diperbolehkan, berapa
watt Transistor itu boleh dibebani, dan masih banyak lagi persyaratan yang
harus diketahui supaya Transistor bekerja normal, ketiga cara bias Transistor
itu didasari dengan tiga macam pemakaian bersama kaki-kaki Transistor atau
common.
1.
Emitor terbumi atau common Emitter.
2.
Kolektor terbumi atau common Collector.
3.
Basis terbumi atau common Base.
6. Cara Kerja Transistor
Terdapat dua jenis transistor. Yang pertama ada
transistor bipolar junction transistor (BJT) dan transistor field effect atau
yang lebih dikenal dengan nama FET.
Cara kerja transistor BJT, yaitu sesuai dengan
namanya, transistor ini menggunakan dua polaritas yang membawa muatan untuk
membawa arus listrik pada kanal produksinya. Pada cara kerja transistor BJT
pula, terdapat suatu lapisan pembatas yang dibe nama sebagai depletion zone.
Yang nanti pada akhirnya, setiap arus listrik akan masuk melewati pembatas
tersebut dan terbagi karena keberadaan dari depletion zone ini.
Sedangkan untuk cara kerja dari transistor FET, agak
sedikit berbeda dengan transistor BJT. Transistor FET hanya menggunakan satu
jenis polaritas atau pembawa muatan arus listrik. Hal ini pastinya berbeda
dengan transistor bipolar yang memiliki dua jenis polaritas pembawa muatan.
Sedangkan pada transistor FET, arus yang masuk tidak
terbagi menjadi dua aliran seperti pada transistor bipolar. Hal ini disebabkan
karena posisi depletion zone dari resistor effect terdapat di kedua sisi bukan
berada di tengah-tengah. Tetapi untuk kedua tipe transistor, memiliki fungis
yang sama. Tetapi semuanya dibedakan dengan cara kerjaya saja.
7. Mencari Pin Transistor
Jika kita ingin mengetahui kaki transistor, yang
pertama kali kita lakukan adalah menemukan kaki basis terlebih dahulu.
Contoh kasus untuk transistor NPN
(2N2222A)
1.
Kita hubungkan kedua kabel ohm-meter
pada kaki-kaki transistor tersebut. Jika didapatkan nilai resistansi mengecil,
maka jangan ubahkan posisi kabel hitam dengan kaki transistor. Untuk posisi
pada gambar disamping, maka nilai resistansi mengecil.
2.
Ingat posisi jarum pada
ohm-meter!Pindahkan kabel merah ke sisi yang lain. Jika jarum ohm-meter
bergerak (resistansi mengecil) dengan nilai resistansi seperti pada posisi pada
langkah pertama, maka dapat dipastikan bahwa transistor tersebut adalah NPN.
Jika transistor yang diuji adalah PNP, maka kita harus tetapkan posisi kabel
hitamnya. Kita akan mendapatkan hasil yang sama dengan polaritas yang berlawanan.
Sekarang kita sudah menemukan kaki basis transistor tersebut, maka kita tinggal
mencari kaki kolektor dan emiter.
Kita dapat melihat persamaan susunan
dari transistor NPN yang terbuat dari sambungan N-P-N. Ketika kita menghubungkan
kabel hitam (+V) dengan kaki basis dan kabel merah dangan ujung yang lain, maka
sambungan P-N tersebut dibias maju(resistansi mengecil).
3.
Hubungkan kaki basis dengan salah
satu kaki transistor, jika jarum ohm-meter bergerak kekanan, maka dapat
dipastikan bahwa kabel hitam-kolektor dan kabel merah-emiter.
Metode yang sama dapat digunakan untuk transistor
jenis PNP, yaitu: setelah kita menemukan kaki basis, lalu lakukan hal yang sama
seperti pada pengujian transistor NPN dengan hanya menukar posisi kabel
ohm-meter. Sehingga dihasilkan kabel merah-kolektor dan kabel hitam-emiter.
Sekian pengetahuan seputar transistor, semoga
bermanfaat.





No comments:
Post a Comment